Revolution
Pecahnya revolusi Sosialis pada bulan Oktober 1917 di Rusia bagaimanapun juga berpengaruh pada aktivitas politik kaum pergerakan di Hindia-Belanda, kemenangan Revolusi Oktober di Rusia itu telah membangkitkan kesadaran Komunisme. Revolusi Oktober memberi inspirasi bahwa imperialisme Belanda pasti dapat digulingkan dan rakyat Bumi Putra pasti dapat mendirikan negara yang bebas dan merdeka.
Di Semarang Semaun dan kawan-kawan menjadi pimpinan SI lokal. Karena sikap dan prinsip komunisme mereka semakin radikal, hubungan dengan anggota SI lainnya mulai renggang.
Kongres Nasional Sarekat Islam ke 2 di Jakarta yang diselenggarakan dari tanggal 20-27 Oktober 1917, membahas hubungan antara Agama, Kekuasaan, dan Kapitalisme. Tema yang menimbulkan perdebatan keras di dalam SI. Pasca Kongres SI Semarang mulai mengadakan aksi-aksi untuk memperjuangkan cita-citanya. Mengadakan rapat anggota dan menyerang ketidak beresan ditanah-tanah partikulir, juga kaum buruh di organisir supaya lebih militan dan mengadakan pemogokan terhadap perusahan-perusahaan yang sewenang-wenang. Atas nama SI, Semaun dan Kadarisman memproklamasikan pemogokan dan menuntut 3 hal :
1.Pengurangan jam kerja menjadi 8 jam.
2.Selama mogok gaji dibayar penuh.
3.Setiap yang dipecat diberi pesangon 3 bulan gaji.
Semaun begitu gigih membangun VSTP, pada tahun 1920 dia telah membangun 93 cabang di pulau Jawa, beberapa pantai barat Sumatra dan perkebunan Deli.
Saat kongres ke-3 diBandung Semaun dengan lantang dan terang-terangan menentang agama sebagai dasar pergerakan SI, karena dianggap akan menjadikan Sarekat Islam menjadi organisasi yang eksklusif, tidak terbuka terhadap seluruh golongan rakyat di Indonesia.SI akhirnya benar-benar pecah menjadi SI putih yang dipimpin oleh (H. Agus Salim, Abdul Muis, Gunawan, H.O.S Cokroaminoto Cs dan SI merah yang dipimpin oleh Semaun serta Darsono. Dan pada akhirnya ISDV terpaksa melepaskan politik Blok di dalamnya dari SI pada tahun 1921, karena pada kongres SI di Purwokerto, diputuskan bahwa anggota SI tidak boleh menjadi mempunyai keanggotaan ganda pada organisasi lain. Semenjak itulah, maka SI Semarang dan beberapa SI lokal lainnya memisahkan diri dari keanggotaan Sarekat Islam.
Pada tanggal 23 Mei 1920 Semaun mengganti ISDV menjadi Partai Komunis Hindia, 7 bulan kemudian partai ini kemudian merubah namanya menjadi Partai Komunis Indonesia yang sekaligus menjadi anggota dari Komunis International (komintern). Setelah perpecahan dengan Sentral Comite Sarekat Islam pimpinan H.O.S Cokroaminoto, maka beberapa basis pengorganisiran buruh dan tani dimasukkan kedalam keanggotaan Sarekat Islam Merah yang pada tahun 1924 berubah nama menjadi Sarekat Rakyat.
Tokoh kiri yang tidak kalah peranannya adalah Tan Malaka, ia lahir di gadang Sumatra Barat. Saat berumur 16 tahun ia dikirim ke Belanda untuk bersekolah guru di Rijkskweekschool di kota Harlem Belanda. Ia tidak hanya mendalami pelajaran-pelajaran sekolah semata tetapi juga menjadi kutu buku yang keranjingan menggeluti pemikiran-pemikiran radikal yang ramai diperbincangkan di Eropa. Sebuah toko kecil di pojok jalan Jacobijnen menjadi penghisap utama uang dikantong sebagai ongkos pencerahan pemikirannya. Kehausan intelektualnya semakin menyeret hasratnya untuk menyusuri buku-buku karangan para pemikir terkemuka beraliran komunis yang tengah menjadi arus paling kuat didataran Eropa. Ia melahap Het Capital karya Marx dan Engels, Marxiest Ekonomie karangan Karl Kautsky dan otaknya diobori juga oleh surat kabar radikal Het Volk milik Partai Sosial Demokrat Belanda (SDAP), serta brosur-brosur tentang perjuangan dan pemikiran tokoh-tokoh dibalik kemenangan revolusi Bolsyewik 1917 di Rusia yang membuktikan dalil Karl Marx bahwa dominasi Kapitalisme di dunia dapat dipatahkan lewat Revolusi Sosialis dalam satu arus besar sejarah.
Tahun 1919 ia kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai guru disebuah perkebunan di Deli (Sumatra Timur). Di Tempat kerja yang baru ini Tan Malaka mendapat gaji yang sangat layak (kerena memiliki ilmu yang tidak kalah dengan guru-guru Belanda) dan diperlakukan sebagaimana orang Eropa. Diperusahaan perkebunan milik Kapitalis Belanda inilah Tan Malaka menyaksikan didepan matanya sendiri berjalannya sistem kapitalisme dalam wujud paling busuk (klas pekerja dihisap, rasialisme antara kulit coklat dan kulit putih berlaku secara sepihak dan kekayaan buminya dikuras dan diangkut oleh borjuasi Belanda. Ketimpangan social yang dilihatnya dilingkungan perkebunan antara kaum buruh dan tuan tanah Belanda menggugah semangat radikal Tan muda. Tahun 1921 ia meninggalkan Deli mencampakkan tunas priayi dengan segala fasilitas rumah, gaji tinggi, dan kemewahan, ia menyebrang membawa api dan dendam menuju tanah Jawa. Ia secara sadar dalam dirinya untuk memasuki gelanggang pergerakan rakyat yang nyata dan menentang secara langsung kolonialisme dan imperialisme. Tan Malaka datang kesarang yang tepat, yakni perkumpulan kaum pergerakan rakyat (SI) yang pada waktu itu sedang mengadakan rapat besar di Yogyakarta. Di tempat pertemuan itulah Tan Malaka berkenalan dengan tokoh-tokoh pergerakan terkemuka seperti Semaun dan Darsono.
Di Semarang Semaun dan kawan-kawan menjadi pimpinan SI lokal. Karena sikap dan prinsip komunisme mereka semakin radikal, hubungan dengan anggota SI lainnya mulai renggang.
Kongres Nasional Sarekat Islam ke 2 di Jakarta yang diselenggarakan dari tanggal 20-27 Oktober 1917, membahas hubungan antara Agama, Kekuasaan, dan Kapitalisme. Tema yang menimbulkan perdebatan keras di dalam SI. Pasca Kongres SI Semarang mulai mengadakan aksi-aksi untuk memperjuangkan cita-citanya. Mengadakan rapat anggota dan menyerang ketidak beresan ditanah-tanah partikulir, juga kaum buruh di organisir supaya lebih militan dan mengadakan pemogokan terhadap perusahan-perusahaan yang sewenang-wenang. Atas nama SI, Semaun dan Kadarisman memproklamasikan pemogokan dan menuntut 3 hal :
1.Pengurangan jam kerja menjadi 8 jam.
2.Selama mogok gaji dibayar penuh.
3.Setiap yang dipecat diberi pesangon 3 bulan gaji.
Semaun begitu gigih membangun VSTP, pada tahun 1920 dia telah membangun 93 cabang di pulau Jawa, beberapa pantai barat Sumatra dan perkebunan Deli.
Saat kongres ke-3 diBandung Semaun dengan lantang dan terang-terangan menentang agama sebagai dasar pergerakan SI, karena dianggap akan menjadikan Sarekat Islam menjadi organisasi yang eksklusif, tidak terbuka terhadap seluruh golongan rakyat di Indonesia.SI akhirnya benar-benar pecah menjadi SI putih yang dipimpin oleh (H. Agus Salim, Abdul Muis, Gunawan, H.O.S Cokroaminoto Cs dan SI merah yang dipimpin oleh Semaun serta Darsono. Dan pada akhirnya ISDV terpaksa melepaskan politik Blok di dalamnya dari SI pada tahun 1921, karena pada kongres SI di Purwokerto, diputuskan bahwa anggota SI tidak boleh menjadi mempunyai keanggotaan ganda pada organisasi lain. Semenjak itulah, maka SI Semarang dan beberapa SI lokal lainnya memisahkan diri dari keanggotaan Sarekat Islam.
Pada tanggal 23 Mei 1920 Semaun mengganti ISDV menjadi Partai Komunis Hindia, 7 bulan kemudian partai ini kemudian merubah namanya menjadi Partai Komunis Indonesia yang sekaligus menjadi anggota dari Komunis International (komintern). Setelah perpecahan dengan Sentral Comite Sarekat Islam pimpinan H.O.S Cokroaminoto, maka beberapa basis pengorganisiran buruh dan tani dimasukkan kedalam keanggotaan Sarekat Islam Merah yang pada tahun 1924 berubah nama menjadi Sarekat Rakyat.
Tokoh kiri yang tidak kalah peranannya adalah Tan Malaka, ia lahir di gadang Sumatra Barat. Saat berumur 16 tahun ia dikirim ke Belanda untuk bersekolah guru di Rijkskweekschool di kota Harlem Belanda. Ia tidak hanya mendalami pelajaran-pelajaran sekolah semata tetapi juga menjadi kutu buku yang keranjingan menggeluti pemikiran-pemikiran radikal yang ramai diperbincangkan di Eropa. Sebuah toko kecil di pojok jalan Jacobijnen menjadi penghisap utama uang dikantong sebagai ongkos pencerahan pemikirannya. Kehausan intelektualnya semakin menyeret hasratnya untuk menyusuri buku-buku karangan para pemikir terkemuka beraliran komunis yang tengah menjadi arus paling kuat didataran Eropa. Ia melahap Het Capital karya Marx dan Engels, Marxiest Ekonomie karangan Karl Kautsky dan otaknya diobori juga oleh surat kabar radikal Het Volk milik Partai Sosial Demokrat Belanda (SDAP), serta brosur-brosur tentang perjuangan dan pemikiran tokoh-tokoh dibalik kemenangan revolusi Bolsyewik 1917 di Rusia yang membuktikan dalil Karl Marx bahwa dominasi Kapitalisme di dunia dapat dipatahkan lewat Revolusi Sosialis dalam satu arus besar sejarah.
Tahun 1919 ia kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai guru disebuah perkebunan di Deli (Sumatra Timur). Di Tempat kerja yang baru ini Tan Malaka mendapat gaji yang sangat layak (kerena memiliki ilmu yang tidak kalah dengan guru-guru Belanda) dan diperlakukan sebagaimana orang Eropa. Diperusahaan perkebunan milik Kapitalis Belanda inilah Tan Malaka menyaksikan didepan matanya sendiri berjalannya sistem kapitalisme dalam wujud paling busuk (klas pekerja dihisap, rasialisme antara kulit coklat dan kulit putih berlaku secara sepihak dan kekayaan buminya dikuras dan diangkut oleh borjuasi Belanda. Ketimpangan social yang dilihatnya dilingkungan perkebunan antara kaum buruh dan tuan tanah Belanda menggugah semangat radikal Tan muda. Tahun 1921 ia meninggalkan Deli mencampakkan tunas priayi dengan segala fasilitas rumah, gaji tinggi, dan kemewahan, ia menyebrang membawa api dan dendam menuju tanah Jawa. Ia secara sadar dalam dirinya untuk memasuki gelanggang pergerakan rakyat yang nyata dan menentang secara langsung kolonialisme dan imperialisme. Tan Malaka datang kesarang yang tepat, yakni perkumpulan kaum pergerakan rakyat (SI) yang pada waktu itu sedang mengadakan rapat besar di Yogyakarta. Di tempat pertemuan itulah Tan Malaka berkenalan dengan tokoh-tokoh pergerakan terkemuka seperti Semaun dan Darsono.
0 komentar:
Posting Komentar